Kamis, 24 Juni 2010

Masa Remaja Dulu dan Kini Beda


MASA remaja adalah masa transisi ketika anak akan menjadi dewasa. Masa itu juga dianggap masa yang paling indah. Mengapa indah? Karena pada masa itu biasanya anak mulai mengenal lebih dekat lawan jenisnya. Bisa jadi muncul cinta pertama. Deg-degan, berjuta rasa, bercampur aduk. Ingatan itu akan membekas hingga dewasa.

MAUPUN agak norak tapi ada kelucuan di sana. Namun kadangkala masa remaja bisa Juga menjadi rawan. leni lama apabila remaja salah Jalan, baik dalam pergaulan atau cinta monyetnya.Psikolog masalah remaja Roslina Verauli mengatakan, masa remaja dulu dan sekarang sudah mengalami perubahan alias beda. Sehingga orangtua harus mau berubah untuk menyikapi perubahan itu. Jika gagal, akan ada gap yang besar antara orangtua dan anak, yang menyebabkan terhalangnya komunikasi dan kedekatan.

Terlebih kondisi orangtua dulu dan sekarang Juga mengalami perubahan. Misalnya ayah dan Ibu yang kini bekerja hingga malam, yang seringkali pulang ke rumah dalam keadaan lelah.Untuk menyingkapl kondisi Itu, orangtua dituntut pintar, banyak menggali Informasi lewat lnternet, baca buku, untuk mengetahui perkembangan kini dunia anak-anak dan remaja.

Perubahan cara berkomunikasi lewat teknologi Juga terus terjadi. Kini sedang booming adanya Jejaring pertemanan seperti Jacebook. twltter, dan lainnya. Sebelum era Jacebook, saat Internet mulai dikenal, masalah remaja adalah kegemaran membuka situs porno. Kini, selain masalah situs porno. Juga ditambah Jacebook (FB).Ada remaja yang menyingkapl FB dengan positif, ada Juga yang negatif. Misalnya ada remaja yang cuma memanfaatkan FB untuk memberikan komentar-komentar lucu, naksir teman di kelas, atau ingin lebih tahu mengenal orang yang ditaksir, dan sebagainya. Hanya sebatas itu.

Sementara yang negatif adalah FB digunakan untuk menciptakan ketergantungan kepada orang yang dikenalnya di Jejaring itu. sehingga akhirnya mau melakukan apa pun karena rasaketergantungan itu. Misalnya kabur dari rumah atau berhubungan Intim dengan teman yang baru dikenalnya di FB."Biasanya remaja yang seperti Itu kesepian, tidak bergaul dengan teman sebaya. gagal menampilkan eksistensi, sehingga ketika ada teman di FB yang dianggap bisa digebet, menjadi ketergantungan dan mau saja diajak apa-apa." kata Vera saat menjadi pembicara dalam talkshow Saatnya para remaja menunjukkan eksistensi diri melalui fotografi, dari Cometto. belum lama ini.

Konsep positif

Orangtua memang tidak bisa melarang anak remajanya membangun pertemanan, termasuk menjalin kedekatan dengan lawan Jenis. Pasalnya, manfaat yang bisa diambil Juga banyak. Menjalin hubungan dengan lawan Jenis pada remaja dan dewasa Juga ada perbedaan.Pada remaja, hubungan Ini lebih untuk bersenang-senang [having Jun), dan biasa dilakukan berkelompok. Misalnya rekreasi, nonton bareng, makan bareng, melakukan hobi bersama, belajar bersama. Manfaat lain dari hubungan ini. remaja belajar mengembangkan rasa sosial, belajar mengenal Upe-Upc orang, etiket berhubungan dengan lawan Jenis, dan membangun kedekatan dengan seseorang, dengan saling percaya, berbagi, dan membuka diri.

Pada anak yang punya konsep positif, dalam berhubungan dengan lawan Jenis (pacaran) tidak akan mau melakukan tindakan yang merugikan. Misalnya berhubungan badan, kabur dari rumah, serta tindakan negatif lainnya. Beda dengan remaja yang tidak punya konsep positif. Rasa ketergantungan terhadap pasangannya begitu kuat, sehingga mau melakukan hal apa pun. baik yang merugikan ataupun tidak.

Nah masalahnya, bagaimana mendidik anak supaya memiliki konsep positif? Tentunya dengan membangun potensi dan prestasi pada diri remaja tersebut Caranya dengan mengikuti kegiatan septrti ekskul. kursus/les yang bermanfaat, mengikuti ajang kompetisi, dan punya Jaringan pertemanan. Peran orangtua adalah memfasilitasi anak mengikuti kegiatan- kegiatan positif yang dilakukan remaja. Jangan hanya disuruh belajar di sekolah saja, walaupun belajar Juga penting.Sementara pada dewasa, hubungan pacaran lebih serius. Hubungan yang lebih intim secara emosional, eksklusif, dan sudah punya komitmen kuat.

Pertemanan Remaja


Suatu pertemanan atau persahabatan diisi dengan kedekatan, kehangatan, serta dukungan di kala kita sedang sedih, gagal, atau juga senang. Teman merupakan tempat kita membagi nilai-nilai hidup. Teman menjadi sangat penting bagi seorang remaja. Hal ini mungkin disebabkan karena anak muda lebih ingin menghabiskan waktunya jauh dari keluarga, dan pada usia ini kebutuhan lebih tinggi terhadap dukungan sosial.

Masa remaja merupakan rentang waktu saat seseorang paling banyak mengalami pengalaman perubahan fisik dan emosional. Hal ini umumnya berdampak pada kebingungan dan ketidakyakinan, bahkan kerap membuat remaja merasa awkward atau canggung. Itulah sebabnya dukungan dan kehadiran teman menjadi vital dan krusial.

Pertemanan bagi remaja putri dan putra umumnya memiliki beberapa perbedaan. Bagi remaja putri, teman adalah (sekumpulan) orang untuk berbagi rahasia, berdiskusi soal laki-laki, membahas pakaian dan tren, serta mengeluarkan keluh kesah dan kecemasan. Sedangkan bagi remaja putra, keberadaan teman yang utama adalah sebagai rekan atau companion, untuk bermain sepakbola, berbagi lelucon, berkumpul bersama, dan mendengarkan musik.

Tingkat keintiman pertemanan pada remaja putra umumnya lebih kecil, lebih ke permukaan seperti sharing mengenai olahraga dan hobi. Salah satu akibatnya adalah apabila terdapat masalah dalam pertemanan, biasanya akan lebih berpengaruh pada para remaja putri. Remaja putri juga umumnya mengalami lebih banyak kecemburuan dan persaingan dengan teman-teman dekatnya, ketimbang remaja putra.

Beberapa remaja juga terkadang mengalami kesulitan dalam berteman. Umumnya masalah bersumber dari sifat atau karakter anak, misalnya pada anak yang pemalu, pendiam atau memang penyendiri. Anda bisa membantunya dengan memasukkan ke klub hobi atau kursus tertentu, namun jangan pernah memaksanya untuk menjalin pertemanan dengan siapapun, semua harus berproses secara alami.

Terkadang hal ini terkait dengan hobi anak yang kurang sosial atau tidak melibatkan orang lain, misalnya membaca, mendengarkan musik atau menulis puisi, yang semuanya dilakukan sendiri di kamar. Tidak perlu terlalu khawatir, sebab memang ada anak-anak tertentu yang lebih nyaman demikian. Yang penting, Anda selalu menunjukkan bahwa Anda sebagai orangtua pun akan senantiasa siap hadir sebagai teman baginya.

Bagi para orangtua, pertemanan pada remaja bisa sangat mengkhawatirkan, karena lingkungan (pertemanan) seringkali membawa pengaruh yang buruk bagi anak. Wajar saja bila Anda takut remaja Anda akan mengalami berbagai masalah seperti pemakaian narkoba atau bahkan perilaku seks bebas. Akan tetapi Anda juga perlu mengingat bahwa kehadiran teman sangat penting bagi remaja, tanpanya akan sangat sulit bagi anak untuk belajar mengenai proses sosialisasi dan hubungan.

Daripada Anda melarang anak berteman atau Anda memilihkan teman baginya, akan lebih bijak bila Anda membiarkan anak berteman secara alami, namun lengkapi juga dengan pengawasan dan perhatian yang cukup. Salah satu caranya tentu dengan mengenal teman-temannya, terutama yang paling dekat dan paling sering menghabiskan waktu dengan anak.

Untuk mencapai hal ini, Anda perlu menciptakan kepercayaan dan rasa nyaman bagi remaja Anda dan teman-temannya terhadap Anda. Jika Anda selalu memasang muka kaku, tegang, apalagi galak, bisa dipastikan anak remaja Anda akan enggan untuk memperkenalkan teman-temannya pada Anda.

Rasa nyaman dan keterbukaan juga hendaknya Anda tunjukkan pada suasana rumah. Dengan demikian, remaja Anda senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya di rumah, dan tentunya hal ini bisa semakin mencegah hal-hal negatif. Yang lebih utama lagi, hubungan Anda dan anak remaja harus senantiasa dijaga kedekatannya. Keinginan remaja untuk menjauh dari keluarga bisa ditekan apabila dia merasakan kenyamanan dan dukungan sosial keluarganya.

Berusahalah untuk menjadi teman atau partner bagi anak. Memang tidak mudah, apalagi hal ini cukup terkait dengan perbedaan usia, cara pandang dan cara pikir, pola hidup, kebiasaan, dan sebagainya. Namun sulit bukan berarti tidak mungkin. Dengan komunikasi yang hangat dan terbuka, orangtua bisa menjadi teman yang terpercaya bagi anak.



percintaan remaja


Bukan sinetron saja. Masalah percintaan kaum remaja memang tidak ada habis-habisnya dieksploitasi oleh para raksasa industri. Valentine dijadikan ajang untuk menjual habis barang dagangan, dengan sasaran utamanya adalah kaum remaja. Siapa korban terbanyak dari Britney Spears? Tidak lain dan tidak bukan adalah kaum remaja. Siapa yang merasakan dampak besar akibat merebaknya pornografi? Ternyata kaum remaja juga. Jadi dengan mudah kita dapat menyimpulkan bahwa menjadi remaja di jaman sekarang ini memang runyamnya minta ampun!

Masalahnya (menurut saya) hanya satu : kaum remaja seringkali tidak punya pegangan. Di satu sisi ia baru saja beranjak dari usia kanak-kanak, di mana pada masa-masa itu ia hanya menggunakan satu logika, yaitu meniru. Di sisi lain, ia juga baru mulai menjajaki kehidupan orang dewasa yang penuh dengan pilihan dan terbukanya akses-akses yang sebelumnya tidak bisa dibuka. Repotnya lagi, pada usia ini pulalah muncul keinginan untuk memberontak, baik pada orang tua, guru, atau tatanan nilai-nilai adat dan agama. Kecuali aturan Allah SWT, segalanya memang boleh dikritisi. Namun apakah semua harus dilawan? Inilah salah satu godaan terbesar yang dialami oleh setiap manusia ketika menginjak masa usia remaja.

Akhirnya, alih-alih melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, kaum remaja justru seringkali mencederai kepentingannya sendiri. Karena kesal pada orang tua yang selalu menyuruh belajar (misalnya dengan memberi target rangking, menyuruh anak belajar di bimbel plus belajar privat di rumah), maka ia ‘membalasnya’ di sekolah, misalnya dengan bolos, dan berbagai kenakalan lainnya. Sebenarnya sedikit sekali remaja yang benar-benar nakal. Sebagian besar hanya marah, dan kebingungan bagaimana harus menyalurkan amarahnya.

Dengan prinsip ‘tampil beda’, akhirnya kaum remaja justru ‘tampil seragam’. Waktu saya kelas 2-3 SMP dahulu, siswi sekolah sedang gandrung sepatu ‘Doc Mart’. Sekarang, rata-rata kaus kakinya tinggi seperti pemain sepak bola, dan panjang baju seragamnya pas sampai di pinggang. Dulu sekali, orang-orang beramai-ramai mengkeritingkan rambutnya. Sekarang, yang ikal pun ingin rambut lurus. Kalau dulu kekekaran tubuh dan ke-macho-an pribadi adalah kebanggaan para siswa, sekarang mereka malah tampil sekurus mungkin, dengan gaya rambut yang aneh meniru-niru Good Charlotte dan band punk semacamnya. Mereka memang mengaku ingin tampil beda, tapi di mata orang lain, mereka justru tak berkarakter sama sekali. Inilah ‘sisa-sisa’ logika meniru yang masih mereka pakai dari masa kanak-kanak.

Pada usia ini pula manusia cenderung melakukan hal-hal yang akan disesalinya kemudian. Masalahnya, mereka tidak melakukannya dengan niat yang tepat. Berbuat salah itu biasa bagi siapa pun, namun ada kalanya seorang remaja melakukan sesuatu yang salah menurut akalnya, namun ia tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya. Kadang mereka melakukannya untuk mencari perhatian, kadang hanya demi pembalasan, meskipun nyaris selalu salah sasaran.

Pada prinsipnya kaum remaja seringkali merasa kesepian. Mereka merasa orang tuanya tidak memahami keadaan dirinya (dan kalau mau jujur, orang tua memang seringkali lupa dengan kondisi jiwa kaum remaja), apalagi gurunya. Maka mereka pun berpaling pada teman-teman sebayanya dan orang-orang yang mereka idolakan. Jika teman-temannya merokok, maka mereka pun tergoda untuk merokok. Jika artis Hollywood pujaan hatinya menjunjung tinggi seks bebas, maka perzinaan pun tidak tabu lagi di matanya.

Adalah sebuah ironi yang tak terperi ketika saya menyadari bahwa kaum remaja selalu ingin dimengerti, namun mereka sendiri seringkali tidak mengerti dirinya sendiri. Mereka mencari-cari identitas dirinya ‘keluar’, padahal mereka seharusnya duduk dan mencarinya ‘di dalam’. Mereka melihat-lihat identitas orang lain dan mencoba menerapkannya pada diri sendiri dengan logika trial and error yang sangat menyedihkan. Padahal sunnatullaah berlaku sampai kapan pun : manusia tidak menghormati seorang copycat ! Anda bisa dengan mudah tampil keren, tapi terhormat itu urusan lain lagi.

Kembali pada masalah cinta, khususnya cinta remaja.

Kaum remaja seringkali tidak menyadari keadaan dirinya sendiri yang masih sangat labil dan amat dipengaruhi oleh ego pribadi. Kondisi yang demikian ini adalah kondisi yang paling tidak ideal untuk berkecimpung dalam masalah percintaan. Itulah sebabnya, meskipun sinetron-sinetron menggambarkan sebaliknya, namun drama percintaan yang dialami oleh kaum remaja lebih sering kandas di tengah jalan daripada berlanjut menuju akhir yang baik.

Jika bicara masalah cinta, yang seringkali muncul dalam perbincangan adalah ucapan-ucapan seperti :

  • “Kamu kok nggak ngertiin aku...”
  • “Aku ingin...”
  • “....pasangan yang bisa membahagiakan aku.”

Kata-kata yang saya tebalkan dapat dengan mudah menunjukkan adanya campur tangan ego dalam kadar yang cukup tinggi. Sekali lagi, ini adalah racun dalam urusan cinta-cintaan. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari.

Bagi seorang Muslim, hidup bukan untuk diri sendiri. Jangan bicara kasih sayang kalau masih memikirkan diri sendiri, dan jangan ngomong cinta kalau tidak mau mendahulukan pasangan. Dengan demikian, kalau memang mau bicara cinta, maka seorang remaja harus rela terlebih dahulu untuk melepaskan logika kanak-kanaknya dan melangkah lebih jauh dengan logika orang dewasa. Dan untuk menjadi dewasa, tentu saja, butuh waktu.